garudasaktinews.com-Warga tak mampu secara ekonomi di wilayah Kota Tangerang mengeluhkan ketika anak anak mereka bersekolah di swasta, mereka harus gigit jari dan mengelus dada. Mereka mengeluhkan ketatnya peraturan oleh pihak sekolah swasta, mulai dari yang tak bisa ikut ujian karena belum membayar biaya ujian beserta iuran lainnya, ada yang harus terpaksa berhutang jutaan untuk membayar Tour sekolah anaknya sebagai syarat ujian akhir semester.
Lalu ada yang ijazahnya tertahan oleh pihak sekolah karena tak mampu menebus, hingga ada yang putus sekolah karenan orang tuanya tak mampu membelikan Handphone untuk pembelanjaran anaknya disekolah hingga akhirnya Si Anak lebih memilih menjadi pengamen ketimbang sekolah. Hal tersebut dialami oleh sejumlah orangtua di Kota Tangerang, seperti wilayah Kecamatan Karawaci ,Kelurahan Cibodas, Bugel, Cimone Permai dan Kecamatan Priuk kelurahan Periuk.
Mirisnya, Ada warga yang status pendidikan anaknya terombang-ambing terpaksa harus putus sekolah hingga SMP, karena baru sebulan menjadi murid SMAN 5Kota Tangerang akhirnya memilih berhenti dengan alasan tak bisa memiliki Hp sebagai penunjang pembelajaran di sekolah tersebut, walaupun pihak sekolah (SMAN 5) mendatangi rumahnya untuk membujuk agar kembali bersekolah, anak tersebut tak mau karena tak tega menyaksikan kedua orangtuanya yang tak mampu dalam segi ekonomi.
Seperti dialami Nuril Nasaroh (53),warga Jl Gurame 1 Ujung No 43 RT 006/ RW 04 Kel. Karawaci baru, Kecamatan Karawaci Kota Tangerang yang tergolong warga tidak mampu. Ibu empat anak ini tidak bekerja, walaupun dulu sempat, kini harus gigit jari karena putranya anaknya yang bernama Alimudin(18) tak mau melanjutkan ke SMAN 5 Kota Tangerang karena merasa malu dan tak percaya diri.
Nuril Mengungkapkan anaknya hingga kini tak bisa membawa ijazah aslinya, karena tak bisa membayar sisa uang ujian sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). Dirinya juga mengaku trauma mengingat kejadian yang dialami dirinya bersama anaknya, Saat anaknya menjelang ujian akhir di sekolah Puspita. Dirinya sempat dipanggil pihak sekolah untuk melunasi biaya ujian, diapun membawa uang seadanya dan berharap ada kebijakan dari pihak sekolah namun sesampainya di sekolah, setelah mengantri panggilan, dirinya tak bisa membawa pulang no perserta ujian untuk anaknya, Malu, sedih, karena pualng tidak membawa surat peserta ujian. Beda dengan para orangtua murid lainya yang datang bersamaan, mereka membawa no peseta ujian karena bisa melunasinya.
” Malu, sedih pak kalo inget , Bapaknya cuma pencari cacing jadi gak bisa diandelin kadang dapet cacing pembelinya gak ada, nyari cacing juga musim musiman pak jadi gak setiap hari ada,” ujarnya mengawali cerita.
Lanjutnya lagi, “Waktu itu saya di suruh menghadap kepihak sekolah agar anak saya bisa ikut ujian, karena sebelumnya anak saya belum bisa menyicil dan melunasi iuran sekolah, saat itu Kepala Sekolah (kepseknya) Amirudin dan Walikelasnya Nina Desiyana, saat itu saya tidak bisa membawa pulang no peserta ujian anak saya, hati saya hancur sedih dalam hati saya harus berganti doa apalagi agar anak saya bisa ikut ujian, pas hari ujian anak saya kirakira jam tujuhan pagi anak saya dijemput pihak sekolah pake motor , tapi tetep harus bawa bawa duit 200 ribu untuk nyicil,” ungkapnya.
Alimudin anak ke-3 dari pasangan Empon(55) dan Nuril Nasaroh (53), sempat melanjutkan ke SMAN5 Kota Tangerang, Namun baru sebulan tidak mau melanjutkan karena merasa malu dan tidak percaya diri, selain merasa berlatar belakang dari ekonomi kurang mampu, Alimudin juga tak tega menyaksikan kedua orang tuanya yang tak mampu menanggung beban ekonomi.
” Emang salah saya saya , saya janjikan membri Hp untuk anak saya, tapi saya sudah usaha kesana-kesini tak bisa juga memenuhi janji membelikan hp untuknya, sedangkan kata anak saya malu kalo harus minjem Hp terus buat sekolah”, Ungkap Nuril sambil menyeka kedua matanya menahan beban hatinya.
” Pihak sekolah dari SMAN 5 juga sempat dateng kerumah membujuk, namun anak saya gak mau, mungkin dia malu dan gak tega ngeliat orangtuanya gak punya duit, sekarang dia (anaknya) menjadi pengamen, sempat juga ngelamar kerjaan cuma gak dapet,” sambungnya. Diketahui, Nuril Nasaroh (53) bersama suaminya Empon(55) hingga kini tak mampu menebus ijazah anaknya
Nuril berharap, Pemerintah mengecek langsung keberadaan siswa siswi yang berada disekolah swasta karena banyak juga yag tidak mampu.

Selain itu, ada juga orangtua yang memaksakan harus meminjam alias berhutang, demi anaknya untuk mengikuti kegiatan Study Tour disekolahnya, Serin (54) salah satu orang tua murid menceritakan bahwa anaknya menangis dan pagi harinya malas untuk kesekolah lantaran anaknya belum membayar sama sekali biaya Study Tour sebesar 2,5 juta. Serin terpaksa harus pinjam uang kesana kemari hanya untuk melunasi uang setengah dari biaya tour, sambil bersedih Serin menyeka air matanya yang membayangkan uang pinjaman yang harus dibayar padahal Serin sendiri sulit mencari uang yang kian hari kian menambah beban.
Diketahui kediaman Serin di Kampung Bugel kecamatan Karawaci Kota Tangerang, terbilang sederhana dan sempit untuk ditinggali bersama keluarganya. Keseharian Serin saat adalah penjaga ruko, sedangkan istrinya Yus (51) terkadang mendapat orderan menjemput dan mengantar pulang anak sekolah tapi bukan ojek online
” Saya pinjem kesana kemari untuk membayar biaya study tour, semua biayanya 2,5 juta, saya harus cari setengahnya karena kalo tidak mau ikut dalam kegiatan Tour Akhir tahun ini maka di wajibkan membayar setengahnya dari nilai yg telah disepakati Rp 1.250.000(Satu juta duaratus lima ribu rupiah-red) dari pihak sekolah, apabila pembayaran tidak dilakukan maka pihak sekolah melarang siswanya untuk ikut ujian semester tahun ini ” unkap Serin
Setelah uang terbayar orang tua siswa itu sedikit memprotes biaya yg begitu besar maka pihak sekolah bagian bendahara menyarankan untuk menemui pihak kepsek agar orang tua siswa itu menyadari akan kegiatan sekolah.
” Setelah bayar saya protes kepada pihak sekolah, bagian bendahara bu Nunung, saya disuruh menemui Pak kepala Sekolah, kepseknya namanya Nurhadi,” terangnya
Lebih lanjut Serin berkata, ” Anaknya kini kelas X, satu kelas anaknya berjumlah 40 ada yang kelas isinya 45 anak, itu A sampai F,”ujarnya.
Menurutnya uang sebesar itu memberatkan buat orang gak punya, seperti penjajahan kompeni
” Ini seperti penjajahan kompeni pak, dipaksa harus bayar, sekarang saya bingung memikirkan biaya pengganti hutang buat bayar anak saya study tour,” ungkapnya sedih sambil menitikan air mata
Serin juga diketahui kerap jadi pesuruh apa saja bila ada yang menuyuruh, kini hdirinya harus memutar otak, bekerja lebih keras banting tulang dan memeras keringatnya, demi melanjutkan jenjang pendidikan anaknya.
“Bagi saya selaku warga yang tidak mampu harus mengusap dada dan gigit jari,”tutupnya
Kejadian serupa tapi tak sama juga menimpa Kakak beradik, Tidak diberikannya nomor peserta ujian terhadap Kakak beradik berinisial Ev(17) dan El(16) Siswa-siswi murid sekolah swasta kelas VII Baidul Ahkam (BA) yang berada diwilayah Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk Kota Tangerang.
Mereka nyaris tak bisa tak bisa mengikuti ujian seminggu yang lalu, mereka masing masing diharuskan terlebih dahulu membayar uang ujian dan tunggakan SPP, Osis, sumbangan lainnya yang kisarannya mencapai Rp 800.000,00 (delapan ratus ribu rupiah). Orangtua merekapun memohon meminta kebijakan dan membuat perjanjian dengan pengurus Tata Usaha (TU) sekolah tersebu, hingga akhirnya pihak sekolah mengijinkan dan meminjam kartu akses untuk mengikuti ujian. Namun sang Kakak tak bisa mengikuti ujian karena pihak sekolah hanya memberikan toleransi satu diantara mereka. Inilah cerita sang adik El, rabu 4/12/24 dikediamannya.
” Seharus gak bisa ikut ujian karena belum bayar, semuanya 800 ribuan , mulai SPP bulan Desember, iuran, sampe bayar ujian 400ribu, akhirnya ibu saya kesana akhinya bisa terus dipinjemin kartu akses buat ujian, tapi ada juga yang disuruh pulang enggak boleh mengikuti ujian karena belum bayar,” lirih El.
” Untuk Kakak saya mungkin gak bisa ikut ujian karena pihak sekolah hanya kasih satu pilihan saya atau kakak saya,” sambungnya.
El juga mengaku tak bisa memasuki sekolah negeri karena usianya masih kurang.
” Umur saya masih 15 tahun, jadi gak bisa masuk sekolah negeri,” terangnya.
Tidak diberikannya nomor peserta ujian oleh pihak sekolah karena tak membayar iuran SPP, uang ujian dan sebagainya karena orang tua siswa tersebut tak mampu lantaran profesinya sebagai pekerja serabutan yang penghasilannya tak menentu.
Nenek mereka juga yang satu atap bercerita bahwa salah salah cucunya menangisi meratapi nasibnya yang terancam tak bisa mengikuti ujian, mereka yang bertempat tinggal di Rt004/001 no 147 kelurahan periuk kecamatan Periuk Kota Tangerang tak bisa berbuat banyak, sedangkan kedua orangtua cucunya tak lagi serumah.
” Kemaren-kemaren sempat nangis tak bisa ikut ujian, tapi anaknya minta toleransi kesekolah, ibunya di Bekasi sedangkan bapaknya di Pesing jakarta barat,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Umum JAPRI, Hermansyah SH, mengatakan banyaknya warga yang curhat dan mengadu tak mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta bukan hanya persoalan pendidikan tapi juga soal kemiskinan. Menurutnya Pemerintah Kota Tangerang harus mengevaluasi program yang disalurkan jangan sekadar bantuan semata, tapi juga memberdayakan mereka, mereka memiliki fisik yang lemah dan tidak memiliki kemampuan.

” Pemerintah jangan cuma memberi bantuan, tapi harus juga mermberdayakannya, bahkan banyak diwilayah Kota Tangerang penuh dengan aktifitas bank keliling, padahal diwilayah tersebut selalu diturunkan bantuan sosial, seperti wilayah Periuk, kita juga menganalisa kurangnya pengawasan serta pengawalan sejumlah program pengentasan kemiskinan,”terangnya
” Fenomena ini (warga miskin) seakan akan membuka mata kita, ada yang salah dalam penerapan program bantuan sosial, mengedepankan by name by address dalam mengintervensi kemiskinan ekstrem gagal, ada kebanggaan para pemangku jabatan ditingkat bawah menggunakan kepanjangan tangan, akibatnya persoalannya menjadi komplek, sejumlah variable pelanggaran etika hingga hukum akhirnya hadir disana, hanya mereka pelaku usaha yang mempunyai koneksi yang bisa menikmati kemajuan pembangunan Kota Tangerang, sisanya menunggu kebaikan para pemilik koneksi”sambungnya
Hermansyah juga menganalisa bahwa siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu cenderung berada di sekolah yang berkualitas rendah. Sebaliknya, siswa dari keluarga mampu berkumpul di sekolah yang berkualitas.
Dari analisanya tersebut , Hermansyah berpandangan, adanya faktor yang menyebabkan rendahnya akses masyarakat miskin pada pendidikan berkualitas. yakni, kualitas pendidikan yang tidak merata, dilihat dari hasil belajar (hasil Ujian Nasional).
“Siswa miskin yang kalah secara kualitas akademik itu, akan semakin sulit masuk ke dalam sekolah berkualitas,” ungkap dia.
“Pendidikan seharusnya memberikan peluang bagi masyarakat miskin untuk memperluas kesempatan meraih tingkat ekonomi yang lebih tinggi,” Pungkas Herman.(ARMY)
“Namun, sebagai evaluasi program yang disalurkan jangan sekadar bantuan semata, mungkin bisa diperkuat bagaimana memperdayakan mereka. Karena bisa saja, mereka memiliki fisik yang lemah dan tidak memiliki kemampuan. Pastinya, sisa penduduk miskin ekstrem ini penanganannya akan lebih keras lagi, harus dengan program yang lebih luas lagi dan menyentuh akar permasalahan dari penduduk miskin ekstrem tersebut,” tegas Awang.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kota Tangerang, Decky Priambodo menyatakan intervensi yang dilakukan Pemkot Tangerang dalam menurunkan angka penduduk miskin ekstrem di Kota Tangerang cukup banyak. Selain fokus pada sektor Dinas Sosial (Dinsos) dengan beragam bantuan permakanan dan lainnya, Pemkot Tangerang juga menjaga harga pangan tidak naik dengan program Pasar Murah dan sebagainya.
Disamping itu, dalam dunia pendidikan selain menyediakan infrastruktur yang memadai, program berkelanjutan dalam menunjang kualitas pendidikan pun terus digalakan. Diantaranya, bantuan uang pangkal masuk sekolah swasta kepada 3.896 siswa, bantuan sekolah gratis di 298 SD dan 33 SMP, bantuan biaya operasional inklusif di 50 SDN dan 13 SMPN, bantuan SPP bulanan kepada 39.212 siswa SD dan SMP swasta dan negeri, bantuan biaya pendidikan jejang perguruan tinggi kepada 298 mahasiswa, hingga insentif kepada 19.151 tenaga pendidik.
Pemkot Tangerang pun masih konsisten dengan virtual job fair yang berhasil membuka 53.951 lowongan pekerjaan dan sukses menyerap 14.163 tenaga kerja baru, baik dalam maupun luar Kota Tangerang. memaksimalkan data yang valid. By name by address, sehingga program yang dilahirkan intervensinya akan langsung ke titik sasaran,” kata Decky.
Menanggapi kondisi ini, Kepala Bappeda, Provinsi Banten, Mahdani mengakui Kota Tangerang sebagai kota maju dengan kemampuan keuangan yang kuat, tentu Kota Tangerang sudah tergolong kota yang memiliki capaian bagus. Kota Tangerang sudah bergerak maju sesuai target yang dipasang oleh nasional maupun Provinsi Banten.
“Provinsi Banten, dengan data ini pastinya mengapresiasi dengan baik atas kemajuan dan capaian yang dimiliki Kota Tangerang saat ini. Jangan lengah, ayo sama-sama bergerak untuk menyelesaikan tugas lainnya, dan konsisten menjaga apa yang sudah ada,” tegas Mahdani.











