garudasaktinews.com – Sukabumi, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi kembali menghadirkan edukasi bagi masyarakat melalui Pesan Edukasi dan Sajian Informasi Seputar Perikanan (PESISIR) Seri ke-4. Kali ini, pembahasan mengangkat pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat, yakni mengapa makan ikan bisa menyebabkan gatal.
Melalui tema “Makan Ikan Kok Bisa Gatal? Bisa Jadi karena Histamin”, masyarakat diajak mengenal histamin, memahami proses terbentuknya pada ikan, serta mengetahui cara mencegah risiko agar ikan yang dikonsumsi tetap aman.
Histamin merupakan senyawa yang secara alami dapat ditemukan dalam tubuh manusia dan memiliki peran penting, salah satunya dalam respons sistem kekebalan tubuh. Namun, dalam produk perikanan, histamin dapat terbentuk ketika bakteri tertentu menguraikan asam amino histidin yang terdapat pada daging ikan.
Proses tersebut umumnya terjadi ketika ikan tidak ditangani dan disimpan pada suhu yang tepat setelah ditangkap. Pembentukan histamin dapat berlangsung pada jenis ikan tertentu, terutama ikan yang memiliki kandungan histidin tinggi, seperti tuna, tongkol, cakalang, dan makarel.
Apa hubungan histamin dengan rasa gatal setelah makan ikan?
Histamin yang terkandung dalam ikan dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan keracunan histamin, yang sering disebut scombroid poisoning. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala menyerupai reaksi alergi, seperti wajah memerah, gatal-gatal, ruam pada kulit, sakit kepala, jantung berdebar, mual, muntah, hingga diare.
Gejala dapat muncul dalam waktu singkat setelah ikan dikonsumsi. Meski demikian, gatal setelah makan ikan tidak selalu disebabkan oleh histamin. Reaksi alergi terhadap protein ikan juga dapat menimbulkan gejala serupa sehingga penyebabnya perlu diperhatikan.
Hal penting yang perlu diketahui masyarakat adalah histamin yang sudah terbentuk tidak dapat dihilangkan hanya dengan memasak, menggoreng, atau merebus ikan. Oleh karena itu, pencegahan harus dimulai sejak ikan ditangkap, selama proses pengangkutan, hingga penyimpanan dan pengolahan.
Bagaimana cara mencegah terbentuknya histamin pada ikan?
Masyarakat dianjurkan memilih ikan yang ditangani secara higienis, menjaga ikan tetap dingin sejak setelah ditangkap, segera menyimpan ikan di lemari pendingin atau menggunakan es yang cukup, serta menghindari penyimpanan ikan terlalu lama pada suhu ruang.
Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan peralatan dan tempat pengolahan serta menerapkan rantai dingin selama distribusi. Penanganan yang tepat sangat penting untuk menjaga mutu dan keamanan ikan sebelum dikonsumsi.
Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi melalui PESISIR Seri ke-4 mengajak masyarakat agar tidak hanya memperhatikan kesegaran dan kualitas ikan, tetapi juga memahami pentingnya penanganan dan penyimpanan yang benar.
Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai keamanan pangan hasil perikanan sekaligus mendorong kebiasaan mengonsumsi ikan secara aman dan sehat.
Dengan memahami histamin dan cara mencegah pembentukannya, masyarakat diharapkan semakin cermat dalam memilih, menyimpan, dan mengolah ikan sehingga manfaat gizi ikan dapat diperoleh dengan lebih aman.













